Selasa, 22 Januari 2013

LIKE THE STAR ( Indonesia Version ) - STAR 2

 

There's a song that inside of my soul
Is the wonder I've try to write over and over again
I'm awake in the infinite cold
But you sing to me over and over and over again

So I lay my lay my head back down
And I lift my hands and pray
To be only yours I pray
To be only yours I know know you're my only hope

Sing to me the song of the star
from your galaxy dancing and laughing and laughing again......

         Sebuah lagu mengalun dari pemutar musik di handphone Lian malam itu. Memecah keheningan malam di apartemen itu. Dalam apartement ini tinggal 10 gadis asing termasuk Lian. Suasana apartemen saat ini sedang kosong karena hampir semua penghuni keluar pada waktu malam minggu. Kecuali Lian yang membaca buku data siswa yang telah dipinjamnya.
         "Hmmm .. Kelas 6A berjumlah 20 siswa, dan catatan nilai bahasa Inggris mereka rata - rata di bawah 50, kecuali Shinji Noburame, Niigaki Rei dengan nilai rata-rata 95.. Hmm ..." dia menemukan sesuatu yang menarik.
        "Tapi, ada satu orang yang mendapat nilai sempurna berturut-turut," Dia mengarahkan jari telunjuknya menuju nama pemilik nilai sempurna itu.
        "Sayumi Liantin ? Wow, dia juga bagus dalam mata pelajaran yang lain. Hmm, kalau aku tidak salah, dalam buku ini juga ada profil siswa.. Mari kita lihat profilnya ?"
        Dia membuka bagian profil siswa dalam buku itu. Dia mendapatkannya, Sayumi Liantin. Sebelum dia membacanya, tiba - tiba ada seseorang yang mengetuk pintu kamarnya.
        "Siapa itu?" dia bangun dari tempat tidurnya dan pergi ke pintu.
        "Ini aku, Rose Silfany, tetangga kamu, aku boleh masuk?" kata Rose Silfany (34), orang asing dari Italia yang datang ke negeri ini untuk mengajar Matematika di Universitas Tokyo.
        "Oh, tunggu dulu!" kata Lian.
      Dia bangun dari tempat tidurnya dan menutup buku itu lalu membuka pintu kamarnya. Di depan kamarnya ada Rose dengan pakaian bergaya casual.
        "Apakah kau punya waktu ?" tanya Rose.
        "Ada apa ?" kata Lian.
        "Kamu mau ikut aku ? Aku mau melihat pemandangan Tokyo di malam hari dari Tokyo Tower."
        "Humm, kelihatannya menarik. Tunggu sebentar, aku ganti pakaian dulu."
        "Ok."


       Mereka naik bus yang menuju tujuan mereka. Rose berbicara dengan Lian tentang pekerjaannya di Universitas Tokyo, pacarnya yang tinggal di Hawaii sebagai Manajer Cabang Umum dari perusahaannya. Lian hanya mendengarkan dan kadang meresponnya.


        "Bagaimana hari pertamamu mengajar di sekolah itu ?" tanya Rose.
       "Yah, sangat menarik buatku mengajar di negara lain. Apakah kamu tahu, hampir semua siswa di sekolahku dapat berbahasa Inggris dengan baik, itu memudahkanku dalam mengajar. Mereka juga mengajariku bahasa Jepang."
        "Tapi kita tinggal di negara ini hanya untuk 3 bulan."
        "Benar juga, jadi kita harus memberikan yang terbaik untuk mengajar siswa kita."
        "Aku setuju denganmu," Rose tersenyum.
        "Kita sudah tiba di Tokyo Tower sekarang," kata Rose lagi sambil sambil bersiap turun dari bus.


       Tokyo Tower dibangun tahun 1958 di Shiba Garden, Tokyo Tower termasuk menara tertinggi di dunia.. Ketinggiannya 333m dibandingkan Menara Eiffel di Paris yang mempunyai tinggi 320m. Berat Tokyo Tower sekitar 4,200 ton. Jauh lebih ringan daripada Menara Eiffel yang beratnya mencapai 7.300 ton. 

         Rose dan Lian berjalan ke taman di depan Tokyo Tower, karena itulah tempat favorit bagi semua orang yang datang ke tempat itu untuk bertemu dengan teman-teman mereka.
      "Wow, begitu banyak orang di sini. Lihat, Tokyo Towernya bersinar begitu indah!" kata Rose.
      "Sebuah monumen nasional yang besar. Mengingatkanku waktu di Paris," kata Lian.
     "Lian, ayo kita membeli camilan," kata Rose. Dia menunjuk ke arah stand Takoyaki di taman itu.. 

     "Takoyaki ? Ok, aku ingin mencobanya juga," kata Lian.
     

      "Halo, apakah kalian ingin membeli takoyaki ?" pemilik stand itu menyambut dengan ramah.
      "Berikan kami 2 porsi," kata Rose.
      "Silakan tunggu sebentar."
      "Ini camilan terbuat dari gurita kan pak ?" tanya Lian.

      "Tentu saja, Takoyaki terbuat dari tepung roti lembut dengan isian potongan daging gurita di dalam roti. Kemudian di atasnya diberi saus Okonomiyaki. Anda belum pernah mencoba sebelumnya, Madam?" tanya si penjual Takoyaki tersebut.
      "Saya belum pernah mencobanya, hanya pernah dengar saja."
     "Ada begitu banyak varian dari takoyaki, setiap negara memiliki itu kreasi sendiri pada jenis Takoyaki Jepang untuk isiannya," kata si penjual takoyaki. Dia membalik satu per satu takoyaki untuk mendapatkan warna kuning emas.
     "Gurita ya ? Termasuk seafood kan ? Hehehe kau dulu benci seafood, kan?" tanya Lian dalam pikirannya sembari tersenyum simpul.
      "Ini takoyaki anda, madam," kata si penjual takoyaki.
      Mereka berdua menikmati makanan mereka di taman sekitar Tokyo Tower. Ketika mereka asyik bicara, ada seorang gadis menghampiri mereka.
      "Lian-sensei!?" kata Sayumi ke Lian.
      "Oh ! Sayumi-chan," sapa Lian saat melihat Sayumi sambil melambaikan tangannya.
      "Sedang menikmati malam hari di Tokyo Tower, sensei ?" tanya Sayumi.
      "Yup, dengan teman saya. Rose, ini adalah Sayumi Liantin. Sayumi, ini adalah Rose Silfany," kata Lian memperkenalkan temannya.
     "Haahh !? Hey, kalian berdua memiliki nama yang sama, Liantin. Senang bertemu denganmu, Sayumi-chan," Kata Rose.
      "Senang bertemu dengan anda juga, Rose-san," kata Sayumi.
      "Sayumi-chan, dengan siapa kau datang ke sini?" tanya Lian.
    "Dengan Pak Satoshi, sopir ayah, saya minta dia untuk menunggu saya di mobil. Saya hanya ingin berjalan-jalan di taman ini saja," kata Sayumi.
      "Kamu tidak dengan orangtuamu !?" tanya Rose.
      "Aaa, ayah saya di Amerika sekarang, untuk melakukan bisnis seperti biasanya."
      "Dan ibumu?" tanya Rose lagi.
      "Ibu saya sudah meninggal," kata Sayumi.
      "Oh maaf, aku tidak tahu," Rose merasa bersalah.
      "Tidak apa-apa, karena saya masih punya ayah saya di dunia ini, jadi saya akan baik-baik saja," kata Sayumi dengan tersenyum. Senyum murni, khas anak kecil.

      "Eh, Sayumi-chan, bisa tidak kamu pake kata 'aku' menggantikan kata 'saya' ? Biar kita lebih akrab dan tidak terlalu formal, setuju ?" kata Rose.
      "Humm.. baiklah, saya eh aku akan mencobanya," jawab Sayumi dengan senyumnya yang manis.
     "Ah, bagaimana kalau kita melihat Tokyo dari Tokyo Tower ?" kata Sayumi lagi.
     "Ok, mari kita pergi!" kata Lian.


     Di tempat parkir, Mr Satoshi mengawasi mereka. Ia memakai jas hitam malam itu, khas seorang buttler. Tiba-tiba handphonenya berbunyi, dari tuannya.
      "Ya Tuan, saya disini," ia menjawab panggilan itu.
      "Di mana kamu sekarang?"
   "Saya sedang berada di Tokyo Tower, Tuan. Tempat favorit putri anda. Seperti biasanya, Sayumi-chan jalan - jalan di taman ini setiap akhir pekan. Saya juga melihat Sayumi-chan bertemu dengan gurunya di sini," kata Satoshi.
    "Kedengarannya baik. Satoshi, aku hanya ingin memberitahumu sesuatu yang penting, kau harus melakukan ini."
      "Apa itu Tuan ?"
      "Aku akan pulang pukul 3 sore besok, tolong jangan katakan kepada Sayumi tentang hal ini. Ini akan menjadi kejutan untuknya."
      "Baik Tuan, saya tidak akan bercerita tentang hal ini."
      "Ok, jagalah putriku dengan baik. Selamat malam."
      "Selamat malam, Tuan."


      Di dalam ruang Observasi Tokyo Tower, mereka melihat kota Tokyo dari menara itu. Kota yang terlihat indah di malam hari, seperti kumpulan cahaya bintang.
     "Wow ! So beautiful ! I love it!" Lian dan Rose berteriak. Mereka merasa sangat bahagia melihat pemandangan yang baru pertama kali mereka lihat sejak pertama kali datang di negeri Sakura ini.
    "Ini adalah tempat favoritku ketika aku sendirian. Jadi ketika aku datang ke sini, aku merasa begitu dekat dengan langit, dan itu membuatku begitu tenang," kata Sayumi dengan tersenyum.
      "Langit yang begitu luas, sesuatu yang aku sukai," kata Lian.

     Mereka menikmati pemandangan malam itu dari Tokyo Tower. Ketika mereka sedang berbincang - bincang, Satoshi tiba di tempat itu.
      "Sayumi-san, sudah waktunya kita pulang, sekarang jam 11 malam."
      "Hah? Sudah saatnya pulang ? Padahal aku ingin lebih lama disini."

      "Ingat pesan ayah Sayumi-chan."
     "Iya iya aku ngerti. Lian-sensei dan Rose-san, aku harus pulang sekarang. Terima kasih untuk malam ini, senang bertemu dengan kalian," kata Sayumi.
      "Baiklah, selamat malam," kata Rose dan Lian. Sayumi meninggalkan mereka berdua.


      "Kau terlihat sangat senang, Sayumi-san," kata Satoshi.
      "Yup, ini pertama kalinya aku merasa seperti ini ketika berbicara dengan Lian-sensei. Ada sesuatu dalam dirinya, seolah aku mengenalnya sejak lama."
      "Mungkin itu yang disebut hubungan batin yang misterius."
      "Hubungan batin yang misterius ?? Apa maksudnya, Satoshi-san?"
      "Suatu hari anda akan tahu apa arti kalimat yang juga pernah dikatakan ayah anda kepada saya."
      "Jadi ayah juga mengucapkan kalimat itu juga ? Lian-sensei juga mengatakannya beberapa saat yang lalu. Apa mungkin itu kalimat khas orang dewasa, Satoshi-san?."
      "Hahaha, mungkin. Sekarang silahkan masuk ke dalam mobil dan kita pulang ke rumah dan menikmati secangkir cokelat panas," kata Satoshi dengan tersenyum. Dia membukakan pintu mobil untuk Sayumi.
      "Kedengarannya enak," jawab Sayumi dengan tersenyum.


      Rose dan Lian berjalan menuju ke Halte Bus untuk kembali ke apartemen mereka.
      "Kita jadi pulang sekarang ?" tanya Rose.
      "Tentu saja, badanku sudah sangat lelah hari ini."
     "Ya, kau benar, aku juga. Hari ini adalah hari pertama kita menjadi guru di negeri ini. Ah ! Itu dia bus kita sudah datang !" kata Rose.
    Bus itu membawa mereka kembali ke apartemen mereka berdua. Malam itu, bintang bertaburan begitu banyak, menunjukkan pesolek cahaya mereka di atas kota itu. Para bintang bersiap untuk membawa mimpi, bagi orang-orang yang tidur malam ini. Mereka seperti pembimbing bagi orang-orang yang tersesat dalam gelapnya malam. Malam selalu membutuhkan bintang sebagai sebuah harapan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berkomentarlah dengan bijaksana dan sopan.