Where ever you are hiding, I can find you
If there were no you, Then my heart would stop
Even if you don't say "Love", I can feel with my heart
If you are here, I don't need anything
You're my everything to me
Please shine like a star in the sky
You are my only love,
Forever my only love
We love each other, All I need is you
Can it be compared with anything else ?
Can it be exchanged with anything else ?
Your love, Your heart,
Who can replace you ?
We will never part from each other
Anything that will hurt you,
Nothing that will cause tear will happen
You're my everything to me
Let's not change
Even as time goes by
We love each other
In a place without sadness
Tokyo, Jepang.
Sabtu, 11 Agustus, 2012
Tokyo International Elementary School, Class 6A
Sabtu, 11 Agustus, 2012
Tokyo International Elementary School, Class 6A
"Selamat pagi semuanya, sehat semua ?" salam Maeda Sakura (26), Wali Kelas 6A. Seorang guru berwajah cantik , muda dan ramah dengan anak didiknya.
"Selamat pagi, Sakura-sensei!" semua siswa berdiri dan memberi hormat.
"Baiklah, silahkan duduk semuanya. Hari ini kita akan kedatangan guru bahasa inggris yang baru. Silahkan masuk sensei," dia mempersilahkan guru baru tersebut masuk ke dalam kelas.
"Selamat pagi, Sakura-sensei!" semua siswa berdiri dan memberi hormat.
"Baiklah, silahkan duduk semuanya. Hari ini kita akan kedatangan guru bahasa inggris yang baru. Silahkan masuk sensei," dia mempersilahkan guru baru tersebut masuk ke dalam kelas.
Kemudian masuklah seorang wanita cantik, dengan rambut hitam panjang dan tubuh langsing, ke dalam kelas tersebut.
"Selamat pagi, nama saya Liantin, saya berasal dari Indonesia, tapi saya tinggal di London dan mengajar sebagai guru Bahasa Inggris disana. Panggil saja saya bu Lian. Senang bertemu kalian semua," dia memperkenalkan namanya di hadapan mereka.
"Selamat pagi Ibu Lian, senang bertemu dengan anda," salam mereka.
"Ok, saya persilahkan Lian-sensei untuk memulai pelajaran. Mereka anak didik anda sekarang. Baiklah murid - murid, hormatilah guru kalian dan belajar yang rajin agar kalian semua lulus tahun ini, Ok!? Ganbatte !!" kata Sakura.
"Ya, Sakura-sensei!" jawab mereka.
"Baiklah, saya tinggal dulu Lian-sensei. Semangat ya."
"Baik, terima kasih Sakura-sensei."
Setelah Sakura-sensei meninggalkan kelas, Lian mengambil buku
absensi dari meja guru dan berjalan di depan papan tulis. Dia
membuka buku itu.
"Baiklah, sekarang saya akan mengabsen kalian, agar saya ingat nama kalian semuanya. Tolong beritahu saya nama lengkap kalian, usia dan hobi
kalian ketika saya memanggil nama kalian. Sekarang, mari kita mulai. Humm.. Kenji Matsumoto!?"
"Saya, sensei ! Namaku Matsumoto Kenji, usia 13tahun, hobi
saya bermain sepak bola dan saya ingin menjadi pemain sepak bola profesional
seperti idola saya, Christian Ronaldo !" kata Kenji dengan semangat.
"Bagus, tetap semangat untuk mencapai impianmu dari sekarang. Berikutnya, Shinji Noburame!?"
"Saya, sensei ! Nama saya Shinji Noburame, usia 13tahun, hobi
saya bermain catur. Saya ingin menjadi seorang ilmuwan seperti ayah
saya!" kata anak laki-laki berkacamata itu.
"Ilmuwan di bidang apa?" tanya Lian.
"Nuklir, sensei. Ayahku bekerja di Departemen Tenaga
Nuklir Nasional sebagai seorang pemimpin. Aku ingin menjadi seperti dia suatu hari nanti."
"Semangat yang bagus dan tetap selalu
belajar keras," Lian tersenyum.
Dia terus memanggil nama mereka satu per satu, sampai tiba di urutan nama siswa terakhir.
"Ok, siswa terakhir, Sayumi Liantin ? Liantin ? Hey, nama kita hampir sama, ayo silahkan memperkenalkan dirimu"
"Ah, iya sensei. Nama saya Sayumi Liantin, usia 12tahun. Hobi saya adalah melihat langit waktu malam hari dan saya suka sekali bunga mawar. Aku ingin
menjadi wanita yang hebat di masa depan," jawab Sayumi.
"Hahaha, mimpi apa itu ? Kamu tidak ingin menjadi dokter atau ilmuwan sepertiku, Sayumi ? Anak pendiam sepertimu tidak pernah menjadi wanita yang hebat," kata Shinji. Seluruh isi kelas tertawa, kecuali Kenji dan Lian. Sayumi hanya diam dan duduk kembali. Kepalanya tertunduk, terlihat air matanya berlinang di kelopak mata birunya.
"Shinji! Jangan berkata seperti itu kepada
Sayumi, dia teman sekelasmu. Kalian tidak seharusnya mengejeknya seperti itu.
Setiap orang memiliki mimpi, dan tidak ada yang boleh merendahkan mimpi seseorang. Kalian mengerti !?" kata Lian dengan nada agak meninggi.
Dia melihat mata Shinji dengan tajam. Seisi kelas diam seketika bagaikan ruang kelas yang kosong selama liburan sekolah.
Dia melihat mata Shinji dengan tajam. Seisi kelas diam seketika bagaikan ruang kelas yang kosong selama liburan sekolah.
"Mengerti ?!"
"Ya, Lin-sensei," jawab mereka dengan kepala tertunduk.
"Ya, Lin-sensei," jawab mereka dengan kepala tertunduk.
"Baiklah kalau kalian sudah mengerti, Sayumi jangan dengarkan ejekan mereka lagi. Kamu punya mimpi yang hebat." Dia tersenyum Sayumi.
"Y.. Ya Bu Lian," kata Sayumi. Dia tersenyum simpul, seolah dia seperti menemukan orang yang membelanya ketika dia diejek oleh teman - temannya.
*sensei : teacher : guru
"Baiklah, sekarang kita mulai pelajaran pertama kita hari ini. Humm.. Buka buku kalian di halaman 50, kita akan belajar tentang Tenses Future Past."
Hari itu adalah hari pertama Lian menjadi guru bahasa inggris di Jepang.
Tokyo International Elementary School
Jam istirahat, Ruang Guru
"Ah, Lian-sensei, di sini meja anda, tepat di samping saya," kata Mrs Sakura kepada Mrs Lian yang datang ke
ruangan itu sambil memberikan bekal makan siang untuk para guru.
"Oh, terima kasih," kata Mrs Lian dengan tersenyum.
"Bagaimana kelas anda hari ini?"
"Semuanya baik-baik saja. Emm.. Sakura-sensei...."
"Panggil saja aku Sakura, kau tidak sedang dalam jam mengajar."
"Kalau begitu, panggil saja saya dengan Lian."
"Kopi atau teh ?"
"Teh saja, terima kasih."
"Kopi atau teh ?"
"Teh saja, terima kasih."
"Oh iya, apa ada sesuatu yang mau kau tanyakan?" tanya Sakura sembari memberi teh.
"Boleh aku meminjam buku profil siswa kelas 6A?"
"Ah, tentu saja. Sebentar, nah ini dia, silahkan," dia menyerahkan sebuah buku profil dari laci mejanya.
"Terima kasih."
Di saat mereka berdua berbincang - bincang, terdengar sapaan dengan logat Osaka yang kental.
Di saat mereka berdua berbincang - bincang, terdengar sapaan dengan logat Osaka yang kental.
"Halo Lian-sensei, nama saya Takeru Fujimoto, usia 36
tahun dan saya mengajar bahasa Jepang," kata seorang pria dengan rambut
runcing dan menggunakan eyescontact biru dengan jas hitam yang terlihat classy.
"Senang bertemu anda," jawab Lian dengan bahasa
Jepang yang lancar.
"Wow, kau dari London tetapi saya lihat anda dapat berbicara
bahasa Jepang dengan lancar, di mana anda mempelajarinya dengan cepat? Kursus kilat ?"
tanya Takeru.
"Tidak juga, mata kuliah saya dulu ada bahasa Jepang dan aku juga belajar dari teman dekat saya
ketika saya masih tinggal di Indonesia."
"Saya yakin teman anda pandai berbahasa Jepang bukan?"
"Itu benar."
Bel sekolah berdentang di semua ruang sekolah dan guru.
"Oh, saya harus mengajar sekarang, senang berkenalan denganmu, Lian-sensei," kata Takeru. Dia berjalan keluar ruangan dengan memberi kedipan mata kepada Lian dan Sakura.
"Menjijikkan, dia selalu seperti itu ketika ada seorang guru wanita
yang baru datang ke sini, dia seorang playboy, kamu harus hati-hati," kata Sakura
dengan tersenyum.
"Hah? Ok," dia hanya tertawa.
Setelah jam sekolah berakhir, semua siswa keluar dari gedung itu
dan Lian bersiap untuk pulang ke apartemennya, apartemen khusus bagi guru asing seperti dirinya. Ketika dia melalui taman sekolah, ia melihat Sayumi sedang duduk melihat bunga di sana. Dia menuju ke arahnya.
"Apa yang kamu lihat, Sayumi-chan?" tanya Bu Lian.
"Oh, Lian-sensei, saya sedang melihat bunga mawar merah kesukaan saya. Bunga ini baru mekar 3 hari yang lalu," kata Sayumi.
"Iya, itu bunga yang sangat indah. Kalau boleh tanya, kenapa kamu menyukai bunga
ini?."
"Ayah saya sangat suka bunga ini. Ia memberi saya
satu pot bunga penuh dengan bunga mawar merah setiap hari di meja belajar saya. Ayah juga
berkata bahwa "Jika kamu melihat dan mencium baunya, itu akan membuatmu tenang. Dan jika kamu ingat ibumu, lihatlah bunga ini saat aku tidak
ada di sampingmu untuk memelukmu saat kamu ingin menangis". Ayahku jarang di rumah
ketika saya tiba di rumah. Jadi aku selalu di sini setelah pulang sekolah untuk melihat bunga ini, "kata
Sayumi tersenyum manis.
"Humm.. Ayahmu orang baik. Ketika dia tidak ada didekatmu tapi selalu memikirkan anaknya, kan?" tanya Bu Lian dengan
tersenyum.
"Humm .. Aku sayang ayahku. Oh iya, apakah ibu juga menyukai
bunga ini ?
"Yup, ini adalah bunga favorit saya. Ibu saya juga selalu
memberi bunga ini dan menaruhnya di mejaku."
"Saya pikir kita berdua menyukai hal yang sama,
Lian-sensei," kata Sayumi tersenyum lagi.
"Hehe kau benar. Kita juga memiliki nama yang sama,
Liantin."
"Umm," kata Sayumi. Mereka tertawa.
"Kalau boleh tau, mengapa orangtuamu menamaimu Sayumi
Liantin?" tanya Bu Lian.
"Ayah saya yang menamai saya. Sayumi berarti jiwa
yang murni dan Liantin adalah liontin yang indah dalam bahasa Indonesia.
Ayah saya selalu mengatakan bahwa aku adalah liontin cantik yang memiliki jiwa yang
murni untuk membuat dunia ini lebih baik dari sebelumnya."
"Itu nama dan arti yang indah. Humm, tunggu. Kamu tadi mengatakan
ayahmu mengambil nama Liantin dari bahasa Indonesia. Apa ayahmu berasal dari Indonesia?" tanya Bu Lian.
"Yup, ayah saya berasal dari Indonesia. Kata ayah dia pergi merantau ke Jepang kemudian menetap disini."
Lian terdiam. Entah mengapa dia teringat seseorang yang telah ada di hatinya dan orang itu juga memutuskan untuk tinggal di Jepang.
"Tidak mungkin dia. Banyak orang Indonesia yang tinggal
di Jepang. Apa yang aku pikirkan sekarang? Lupakan .. lupa," dia berbicara dengan
dirinya sendiri.
"Apa yang terjadi Lian-sensei?" tanya Sayumi.
"Ah, tidak," dia tersadar dari
lamunannya.
"Lian-sensei, maaf saya harus pulang sekarang, saya sudah dijemput sopir pribadi ayah," kata Sayumi.
"Oh oke, hati - hati ya, sampai ketemu besok," kata Lian ke Sayumi.
Dia melihat Sayumi masuk ke dalam sebuah mobil mewah yang menunggunya di depan gerbang sekolah kemudian perlahan pergi
meninggalkan area sekolah. Lian melihat sebuah tulisan dan logo yang ada di bagian mobil mewah tersebut. Sebuah tulisan dengan huruf katakana dengan latar belakang logo menyerupai malaikat. Tetapi dia belum lancar membaca huruf katakana.
"Huruf itu sepertinya aku pernah tau, tapi kapan ya ? Ah, lebih
baik aku pulang sekarang," katanya.
Dia naik bus menuju ke apartemennya. Di dalam bus,
dia melihat langit.
"Langitnya begitu indah dan jelas sekali. Humm.. Apakah kau
juga melihatnya sekarang, Azure ?" dia tersenyum.
"Kenapa hari ini jadi ingat kamu ya, my Azure ?" dia tersenyum manis.
Di tempat lain, seorang pria sedang melihat ke langit dari atap salah satu gedung pencakar langit tertinggi di kota New York.
"Humm.. langitnya cerah sekali dan anginnya menenangkan. Apa kamu juga melihat langit biru yang cerah hari ini, Sea Wind ?"
*sensei : teacher : guru
( continued to Star 2 )
(c) 2012
Original Story by Ezra Yukito ( Pen Name )


Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Berkomentarlah dengan bijaksana dan sopan.